Sejarah Dan Istilah Meron dalam Sabung Ayam (S128)

Sejarah Dan Istilah

Kali ini saya akan membahas tentang istilah meron dan wala pada suatu
pertandingan sabung ayam. Sebelumnya, saya akan menjelaskan tentang asal usul mulanya sabung ayam populer di kalangan
masyarakat Indonesia.

Sejarah Adu ayam /sabung ayam ini memiliki banyak versi. setiap versi cerita sejarahnya dari sabung ayam daerah,kota hingga Negara-negara semuanya berbeda- beda.

Versi lain mengatakan bahwa permainan ini bermula dari kegemaran para raja yang sering mempertarungkan pemuda-pemuda di seluruh
wilayah kerajaannya untuk mencari tubarani-tubarani (pahlawan) kerajaan yang akan dibawa ke medan pertempuran. Jadi, pada waktu
itu yang disabung bukanlah ayam melainkan manusia. Namun, lama-kelamaan, mungkin karena semakin jarangnya terjadi peperangan antarkerajaan, pertarungan antarmanusia itu berubah menjadi pertarungan antara ayam yang dinamakan massaung manuk.

Kira-kira Pada TAhun 1646,sabung ayam menjadi tradisi orang bali (tradisi adu ayam Bali) sabung ayam ini adalah salah satu tradisi atau upacra penting di Bali yang diadakan oleh ketua-ketua daerah dengan tujuan agar kampung tempat mereka tinggal terbebas dari bahaya.

Di Filipina, sabung ayam menjadi sebuah kehobian masyarakat setempat. Sabung ayam ini dibagi menjadi dua macam yaitu sabung
ayam legal dan yang ilegal. Sabung ayam legal diadakan di cockpits setiap minggu, sementara yang ilegal disebut tupadaor tigbakay, yang diadakan di cockpits terpencil di mana pemerintah tidak bisa menyerang atau merazia mereka. Arena sabung ayam ini pastinya dikelilingi oleh para penjudi ayam sejati.

Istilah Meron dan Wala Dalam Jenis Pemainan s128 Laga Ayam, Sabung Ayam
Sampai sekarang pun saya masih belum mengetahui asal usul dari kata meron dan wala itu sendiri. Namun singkatnya, dalam permainan sabung ayam dipisahkan menjadi dua kubu yang bertanding. Layaknya suatu games pasti memiliki tim A maupun tim B yang saling bertanding satu sama lain. Nah jika dikonversikan pada sabung ayam ini, maka tim A tersebut adalah meron yang diberi tanda warna merah pada kaki nya, sedangkan tim B ini adalah wala yang diberi kain berwarna biru pada kakinya. Kubu meron maupun kubu wala, mereka sama-sama memiliki tingkat maupun cara bertarungnya sendiri. Kita sebagai penonton pun bisa mengetahui hasil akhir yang akan memenangkan laga ayam ini, tentunya berdasarkan pengalaman pribadi sobat semua. Biasa mereka melihatnya dengan memperhatikan fisik, gerak-gerik, dan arah pandangan ayam saat berhadapan dengan musuhnya.

Author: Lusiana Liu

Saya adalah seorang penulis artikel yang sangat menggemari permainan taruhan.